Return to site

Dalam Sesak Kupercaya

by Ribka Yusuf Lucman

Tidak ada yang menyangka, kalau kita akan mengalami pandemi yang berkepanjangan. Sebagian orang mungkin bisa bertahan dan menjalani hidup dengan damai. Akan tetapi, banyak juga yang berusaha bertahan dalam penderitaan, kesesakan, dan air mata, merasa tidak sanggup lagi menghadapi semua tekanan yang ada. Ada yang mengalami kondisi keuangan yang terpuruk, terlilit hutang, pernikahan yang retak, kehilangan orang yang dikasihi, bahkan merasa sepi karena merasa berjuang sendiri. Merasa gagal, merasa tidak berharga, merasa tertolak dan putus asa.

Namun jangan biarkan keadaan dan kesesakan mencuri pengharapan dan mematahkan semangatmu. Terkadang ketika masalah datang, itu tanda bahwa kita sedang diproses lebih lagi untuk belajar mengandalkan Tuhan. Air mata dan rasa sesak yang kita alami dapat membantu kita untuk menyadari bahwa kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Kita butuh YESUS!

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Mazmur 34:19 (TB)

Ayat ini mengingatkan saya pribadi, bahwa di tengah rasa takut, keputusasaan, dan kekecewaan sekalipun, Tuhan tidak pernah tinggalkan saya. Meski di tengah gelap, rasa sesak, saya percaya saya tidak sendirian. Bahkan meski harus terus melangkah dengan berurai air mata. Saya percaya Tuhan selalu ada dan Dia Setia.

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”

Mazmur 126:5-6 TB

Saya tidak tahu apa yang saudara alami saat ini, tetapi di tengah gelapnya ‘malam’ yang saudara rasakan, saya berharap kita bisa sama-sama belajar untuk memiliki hati yang benar, sebab Tuhan bisa memakai 'malam' berkepanjangan untuk mendewasakan iman kita. Jangan takut dan jangan lari menjauh dari Tuhan. Miliki keberanian untuk menghadapinya, seperti Daud yang tidak takut terhadap Goliat. Selama kita tinggal dekat dengan Tuhan, segala perkara pasti dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan (Filipi 4:13).

Saya belajar bahwa kunci untuk menang melawan ‘malam panjang’ yang saat ini kita hadapi adalah:

1. Percaya kepada Tuhan.

Kalau mata tidak lagi tertuju kepada Tuhan, iman pasti goyah, seperti Petrus yang mulai takut karena merasakan tiupan angin yang kencang dan akhirnya hampir tenggelam ketika berjalan di atas air (Matius 14:30).

Kalau Tuhan mengizinkan ‘malam’ ini terjadi, percayalah Tuhan pasti sudah menyediakan jalan keluarnya. Sekalipun belum melihat tanda-tanda pertolongan Tuhan, tetap percaya. Kita hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7).

2. Tetap tenang.

Saya teringat ketika murid-murid Yesus takut dan panik karena kapal mereka diombang-ambingkan gelombang angin sakal. Tuhan berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Matius 14:27). Mengapa harus tetap tenang? Karena dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita (Yesaya 30:15).

3. Jangan menjauh dari komunitas yang sehat

Kita tidak diciptakan untuk berjuang sendirian. Kita membutuhkan ‘support system. "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. Siapa berjalan bersama orang berhikmat menjadi berhikmat, tetapi kawan orang bodoh akan menderita kemalangan." Amsal 13:20

“Kita tidak bisa memilih tantangan seperti apa yang datang dalam kehidupan kita. Tetapi kita bisa memilih bersama siapa kita akan hadapi tantangan tersebut."

Domba selalu berjalan bersama dengan kawanannya, sehingga lebih sulit untuk domba tersebut diterkam oleh singa dan binatang buas yang lain. Akan tetapi jika ada yang menjauh dari kawanan, singa dan hewan buas lainnya punya kesempatan untuk memangsa domba tersebut.

Jangan menjauh dari komunitas yang sehat dan positif, tapi berlarilah mendekat, sehingga kita bisa mendapatkan dukungan, kekuatan, dan perspektif yang baru untuk menghadapi tantangan dan pergumulan kita.

Penutup:

Saya berdoa, agar kita semua saat ini diberikan damai dan sukacita yang melampaui segala akal, melampaui segala situasi dan keadaan. Saya berdoa agar setiap kita diberikan kekuatan dan hikmat untuk bertahan di tengah gelap dan keputusasaan. Saya berdoa meski di tengah rasa takut dan sesak, hadirat Tuhan dapat memeluk kita, memberikan kehangatan dan pengharapan yang baru bagi kita semua. Saya berdoa sehingga dari malam yang panjang ini kita bisa belajar untuk menjadi orang-orang yang tidak mudah menyerah, menjadi orang-orang yang tahan uji. Orang-orang yang belajar untuk tetap bersukacita di tengah pengharapan, dan orang-orang yang bersandar dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Amin.

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OK